Sosok Penjaga Sekolah yang Ikhlas dalam Bertugas Tanpa Kenal Lelah

 Penjaga Sekolah memiliki banyak sebutan di sekolah dasar. Yaitu penjaga sekolah juga sebagai juru taman, pesuruh, keamanan, dan lain sebagainya. Dalam praktiknya di sekolah dasar seorang penjaga sekolah memiliki tugas utama membersihkan lingkungan sekolah, membuka dan mengunci gerbang, pintu, dan ruangan, membuatkan minuman sehari-hari bagi para guru dan karyawan, dan masih banyak lagi tugas mereka. Kali ini saya ingin bercerita tentang keikhlasan mereka dalam bekerja sehari-hari. Mengapa saya ingin mengangkat cerita ini? Karena saya memiliki banyak teman yang berprofesi sebagai penjaga sekolah, dan ingin mendedikasikan dan mempersembahkan sebuah tulisan untuk kerja keras mereka selama ini. Selain itu pekerjaan ini bisa dibilang jika ada yang baik tidak dan jarang sekali dihargai atau dilihat oleh guru dan karyawan, bahkan lebih sering dianggap jeleknya. Tetapi ya memang tidak semuanya seperti itu sih.


sosok-penjaga-sekolah-yang-ikhlas-dalam-bertugas

Dari foto di atas terlihat 4 orang penjaga sekolah yang sedang narsis duduk santai di teras. Iseng-iseng saya foto untuk koleksi. Foto di atas saya ambil di sela-sela saat menjadi panitia diklat kurikulum 2013 di TPK SDN 1 Kemujan saat puasa kemarin. Walaupun pekerjaan dimulai sejak pukul 06.00 sampai 16.30, mereka tetap semangat saat berpuasa untuk menjalankan tugas di acara tersebut.

Nama mereka dari sebelah kiri yang sedang jongkok bernama Samsul Imron atau lebih dikenal dengan sebutan Mas Gareng. Sebelah kanannya ada Lik Yanta yang memilik nama asli Suyanta. Dan selanjutnya ada Lik Waris dari Desa Tegalsari. Dan yang paling kanan yang paling narsis fotonya itu Lik Darno atau Sudarno yang sekitar 2 tahun lagi akan purna tugas atau pensiun dari tugasnya menjadi penjaga sekolah. Dari keempat orang di atas, hanya Samsul Imron lah yang belum PNS atau masih menjadi PTT (Pegawai Tidak Tetap) sebagai penjaga sekolah di SDN 1 Kemujan.

Suka Duka menjadi Penjaga Sekolah

Beberapa kali saya tanyakan kepada mereka apa sih suka dukanya menjadi penjaga sekolah? Beberapa jawaban yang beragam terlontar dari mulut mereka. Dari yang sedih, senang, kecewa, sampai ke hal yang menggembirakan. Tentu tidak etis kalau saya ceritakan semuanya di artikel kali ini. Tetapi pastinya mereka bekerja sebelum para warga datang sekolah datang dan pulangnya juga paling akhir. Ini membuktikan dari kinerja mereka memiliki beban kerja khususnya tentang jam kerja lebih banyak daripada para guru dan karyawan dan kepala sekolah.

Harapan saya semoga mas Samsul Imron cepat diangkat menjadi PNS sebagai Penjaga Sekolah di sekolah dasar tersebut, dan bagi para Penjaga yang sudah PNS di atas juga mendapatkan rejeki yang berkah dan sampai di masa purnatugasnya sehat sentosa. Karena penghargaan dan kebahagiaan tertinggi dalam bertugas menjadi PNS adalah bisa menikmati sampai akhir tugasnya / saat pensiunnya. Amin. Selalu semangat ya para Penjaga Sekolah. Horaszzz...

REAL STORY : Mengapa Guru Honorer di SD Negeri Masih Dipandang Sebelah Mata ?

 GTT adalah Guru Tidak Tetap. GWB adalah Guru Wiyata Bhakti. GTT dan GWB secara umum memiliki pengertian yang sama. Yaitu seorang guru yang mengabdikan atau mendedikasikan dirinya untuk bekerja dan bertugas di sekolah negeri atau sekolah swasta. Pada dasarnya seorang guru GTT atau GWB ini seperti bekerja magang di suatu sekolahan. Tugas, kewajiban, dan hak seorang GTT dan GWB pun bermacam-macam, tergantung kebijaksanaan dari pemangku kepentingan di sekolahan. Baik komite sekolah, kepala sekolah, atau guru staf karyawan di sekolah tersebut.


Sejak tahun 2015, keberadaan GTT dan GWB sirna dari dunia pendidikan di seluruh Indonesia. Karena adanya kebijakan pemerintah yang melarang kepala sekolah untuk mengangkat GTT dan GWB di satuan pendidikan mereka. Walaupun ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di sekolahan. Untuk mengantisipasi  hal tersebut, beberapa kepala sekolah ada yang mengambil kebijakan lain. Diantaranya adalah meminta bantuan kepada komite sekolah selaku wakil dari orang tua dan murid di sekolah tersebut.

gtt-dan-gwb-masih-dipandang-sebelah-mata

Bagi sekolah yang masih membutuhkan tenaga kependidikan, sedangkan kebijakan pemerintah melarang kepala sekolah untuk mengangkat seorang GTT atau GWB, maka akhirnya ketua komitelah yang membuatkan Surat Keputusan Pengangkatan Guru Wiyata Bhakti atau SK GTT. Hal ini dilakukan karena kebutuhak sekolah yang mendesak dan berbagai kepentingan lain yang memerlukan keberadaan Guru Tidak Tetap atau Guru Wiyata Bhakti.

Mengapa GTT dan GWB masih dipandang sebelah mata?

Beberapa alasan yang berkembang di lingkungan pendidikan tentang keberadaan GTT dan GWB pun beragam. Kami mencoba merekam beberapa alasan dari berbagai kalangan guru dan kepala sekolah yang kami rangkumkan sebagai berikut;

  1. GTT dan GWB masih belum memiliki payung hukum yang jelas dari Kepala Sekolah atau Pemerintah.
  2. GTT dan GWB ada sebagian yang masih belum memiliki kualifikasi pendidikan strata 1 / D IV.
  3. GTT dan GWB masih belum teruji keahlian atau keprofesionalannya dalam bertugas sebagai guru.
  4. Masih ada GTT dan GWB yang hanya menjadikan tugas sebagai guru di sekolahan sebagai tugas sampingan atau pekerjaan sampingan
  5. Adanya rasa iri terhadap kemampuan GTT dan GWB yang melebihi kemampuan dan keahlian dari Guru Pegawai Negeri Sipil.
  6. GTT dan GWB masih dianggap belum berpengalaman.
  7. Gaji atau Honor GTT dan GWB yang masih kecil.

Beberapa alasan di ataslah yang berhasil kami kumpulkan dari beberapa guru dan kepala sekolah yang kami temui.


Tips Agar GTT dan GWB tidak dipandang sebelah mata.

Mungkin bisa ia atau bisa tidak. Kamu sebagai guru tidak tetap atau guru wiyata bhakti mungkin menjadi salah satu guru yang dipandang sebelah mata. Dari ulasan 7 alasan mengapa GTT dan GWB masih dipandang sebelah mata diatas, kami mencoba memberikan tips agar kamu sebagai guru non pns tidak dipandang sebelah mata

  1. Hiraukan saja kalau ada orang yang iri terhadap kemampuan dan keahlian kamu
  2. Jangan biarkan gunjingan dan cemoohan guru atau kepala sekolah lain mempengaruhi kinerja kamu di sekolahanmu
  3. Tunjukkan dedikasi, loyalitas, integritas, kemampuan, dan keahlian kamu seoptimal mungkin
  4. Walaupun belum memiliki payung hukum yang jelas dari pemerintah, niatkan saja bahwa kamu adalah guru yang mengabdikan diri pada pendidikan
  5. Berusahalan untuk bisa mengikuti pendidikan S1 di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Agar kamu bisa mengajar sesuai dengan bekal ijazah Akta IV/S1 yang kamu dapat dari Universitas kamu.
  6. etap berkarya, berinovasi, dan berkreasi agar kamu tetap menjadi GTT dan GWB yang profesional.
  7. Walaupun gaji atau honor yang masih kecil, jangan berkecil hati. Masih banyak cara untuk mendapatkan penghasilan yang lebih selain bekerja sebagai GTT atau GWB. Semisal sepulang sekolah kamu bisa mengajar di rumah / buka LES PRIVAT bagi anak-anak sekolah di sekitarmu. Dan masih banyak lagi yang lainnya.


Baiklah ulasan tentang GTT dan GWB di atas ini, kami sajikan sebagai artikel pelengkap di blog keguruan kami yaitu di blog RIFQI GURU. Semoga ulasan di atas memberikan manfaat yang berlimpah bagi kamu yang berkunjung dan bagi saya yang menulis artikel di atas. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Terimakasih.